my WORDerful life

Intan Permata Sari

Family Gathering

on December 18, 2008

Kayaknya cerita dibawah ini pas deh dengan Misi dari Our 1st Sharing Vision Family Gathering….Lets Check This Out

Kisah Dua Pedagang Permen

           Kisah ini pernah cukup populer tetapi saya sendiri tidak
ingat lagi di mana untuk pertama kalinya kisah itu  saya baca. Konon,
di suatu jalan di depan sekolahan terdapat dua toko permen. Keduanya
menjual jenis-jenis permen yang persis sama. Tetapi toko yang satu
selalu pernuh dengan anak-anak yang berebutan membeli permen. Toko
lainnya hampir tidak ada pembelinya. Para calon salesmen atau SPG
disuruh mengamati mengalami sampai terjadi gejala aneh seperti itu.

Sebagai hasil pengamatan ternyata pemilik toko yang ramai itu sangat
pintar aritmatika dalam hal tambah menambah.  Sedangkan pemilik toko yang lainnya juga sangat pintar aritmatika tetapi dalam hal kurang
mengurang.

Pemilik toko permen yang ramai itu selalu mulai menimbang
dalam dengan jumputan kecil. Kemudian ia terus menambahkan permennya sehingga dacingnya seimbang. Setelah seimbangpun ia masih menambahkan pula satu dua permen sehingga dacingnya berat ke sebelah permen daripada ke sebelah batu timbangan.
 

Sebaliknya pemilik toko yang lain selalu mulai dengan sejumputan besar
permen. Kemudian ia mengurangi permen itu sedikit demi sedikit sampai akhirnya dacingnya seimbang.

Selain daripada itu penjual permen yang murah hati itu juga murah senyum, senang bercanda, sehingga langsung disukai anak-anak. Lawannya seorang yang kikir senyum, bermata curiga dan bermulut kerang.

Ternyata pemilik toko yang satu memahami benar psikologi
anak kecil. Anak-anak itu gembira setiap kali menyaksikan permennya
ditambah dan ditambah. Bahkan sudah setimbangpun masih diberi
kelebihan pula. Sedangkan lawannya kurang memahami psikologi anak
kecil. Mereka melihat permen pada awalnya begitu banyak. Tetapi setiap
kali dikurangi hati mereka menjadi ciut dan semakin ciut. Walaupun
akhirnya dacingnya setimbang tetapi kesan setiap kali permennya
dikurangi itu terus membekas di hati anak-anak. Sama sekali tidak ada
kegembiraan berbelanja di sana. Sebaliknya di toko yang lain itu
selain sudah seimbang masih diberi tambahan bonus lagi beberapa butir
permen.

Bagi saya filosofi pedagang permen yang laris itu bukan
sekedar masalah memahami psikologi anak saja. Ia mengajarkan kepada
saya bahwa nilai kemurahan hati lebih baik dan sekaligus lebih
menguntungkan dibandingkan dengan nilai keadilan yang normatif.
Kapanpun dan di manapun orang lebih menyukai dan menghargai kemurahan hati dibandingkan dengan keadilan.

Hal ini juga berlaku dalam manajemen. Perusahaan yang murah
hati dalam ‘social benefits’ ternyata lebih dicintai oleh para karyawannya. Mereka mengalami turn over karyawan yang lebih rendah dibandingkan perusahaan yang membayar pas menurut syarat-syarat UMR.
Bahkan seandainya upah nominal resmi mungkin lebih kecil sedikit dengan perusahaan-perusahaan lainnya mereka memilih untuk tidak pindah kerja. Ada kelompok perusahaan besar yang memberikan tunjangan kendaraan kepada para karyawannya selepas mereka bekerja sekian (misalnya tiga) tahun. Entah itu berupa mobil, sepeda motor atau
sekalipun hanya sekedar sebuah sepeda bagi para karyawannya (tukang
sapu, janitor, OB dsb) tetapi ada suatu kepastian. Kepastian ini yang
sangat dihargai oleh para karyawannya. Kemudian setelah mereka bekerja sekian (misalnya lima atau enam) tahun pasti diberikan tunjangan perumahan. Sekalipun itu merupakan kredit KPR atau RSS atau hanya dalam bentuk kaveling tanah 15 M2 sekalipun. Yang menarik karyawan adalah kepastian mendapat tunjangan fisik perumahan itu sendiri.

Demikian pula tentunya dengan kepastian fisik lainnya seperti saham kosong, kepemimpinan pada anak perusahaan, dana pensiun, dana ziarah  dsb.

Kisah sederhana dua pedagang permen itu juga memberikan
inspirasi tentang perang gerilya dalam pemasaran produk. Dalam kasus
seperti yang pernah saya alami di mana kami harus bersaing dengan
produk impor juga demikian. Kita mengalami “absolut disadvantages”
atau bahasa sederhananya situasi kalah total. Situasi mentimun lawan
durian di pasar. Sama seperti gerilyawan melawan pasukan konvensional,
jadi harus pintar-pintar mencari akal bulus dan harus menang cerdik.

Dalam hal ini analogi dengan pedagang permen tadi diibaratkan posisi
kuat pesaing itu sebagai batu timbangan. Sedangkan kemampuan
kreativitas sendiri sebagai jumputan permen. Kemenangan hanya
 ditentukan oleh butir permen terakhir yang membuat sisi permen lebih
berat dibandingkan dengan sisi batu timbangan.  Karena perusahaan
kecil tidak mampu memberikan service ‘serba wah’ (batu besar) kepada para pelanggan maka strateginya harus memperbanyak batu kerikil (ataupermen) sehingga piring dacingnya /njomplang./
Dalam “corporate social responsibility” kemenangan
ditentukan oleh service kecil terakhir yang diberikan kepada para
pelanggan.  Entah cuma berupa perbaikan atap sekolah SD di dekatpabrik, memperbaiki jembatan, mengaspal jalan, menambah lampu jalan,mensupply air bersih gratis kepada surau terdekat, dsb.
Intinya sebenarnya sederhana saja. Berikan kepada konsumen
service berupa apa yang mereka dambakan dan bukannya apapun yang kita ingin berikan kepada mereka. Dalam pergaulan sosial juga demikian.
Madu yang kita tawarkan bila tidak diinginkan akan dianggap tidak berbeda dengan racun. Sebaliknya bila yang diinginkan hanya sekedartempe bacem dan sayur asem, maka steak yang kita tawarkan dengangratis juga akan kurang diapresiasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: