my WORDerful life

Intan Permata Sari

Coffee & Cup, mana yang mau dipilih

on May 29, 2008

intan udah lama banget ga ngisi blog, eh…pas buka email dapet email dari Pak Toni chiang_our best customer di BCA, di baca…kena banget sama social life kita…..rasanya salah kalo ga di share, dihaturanan ka sadayana……..

Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah seorang profesor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak didengarkan. Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing. Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara pada berapa $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan ini.

Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya. Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan, prestasi, kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang mereka miliki dan duduki.

Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari mobil yang mereka kendarai serta merek baju dan jam tangan yang mereka pakai. Namun dilain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, yakni kehilangan makna hidup. Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri. They have money but not life.

Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan seteko kopi hangat dan seperangkat cangkir. Ada yang terbuat dari kristal yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina oleh-oleh salah seorang dari mereka, dan ada pula gelas dari plastik murahan untuk perlengkapan perkemahan sederhana. “Serve yourself, “ kata profesor, memecah kegerahan suasana. Semua mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari bahwa sang profesor sedang melakukan kajian akademik pengamatan perilaku, seperti layaknya seorang profesor yang senantiasa memiliki arti dan makna dalam setiap tindakannya.

“Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling mahal dan indah. Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan murahan. Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah sangat normal dan wajar. Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang menyebabkan kalian stres dan tidak dapat menikmati hidup?” sang profesor memulai wejangannya. “Now consider this: life is the coffee, and the jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided, ” kali ini kalimatnya mulai menekan hati.So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead, “ demikian ia berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama.

Sewaktu membaca e-mail yang dikirim rekan saya Ucup, begitu panggilan akrabnya, saya ikut tertegun. Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit. Betapa banyak di antara kita yang salah menyiasati hidup ini dengan memutarbalikkan kopi dan cangkir. Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang cantik.

Ada tiga tipe pekerja (baca: profesional danpengusaha) yang sering kita lihat dalam menyiasati kopi dan cangkir kehidupan ini.

Pertama, pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akhirnya hanya bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan. Paradigmanya sangat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai, semakin bercahaya.

Semakin bagus cangkir yang dimiliki tidak akan mengubah rasa kopi menjadi enak. Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas cangkir. Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah kepemilikan. Sukses diukur dengan seberapa banyak dan bagus apa yang dimiliki. Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun terpacu mendapatkannya. Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi dan tak ada waktu untuk membenahi kopi. Semua upaya hanya untuk bagian luar, sedangkan bagian dalam semakin ketinggalan.

Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit -artinya hidup yang terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta tak ada damai dan kebahagiaan- mencoba menutupnya dengan menyajikannya dalam cangkir yang lebih mahal lagi. Pikirannya juga sangat mudah, kopi yang tidak enak akan terkurangi rasa tidak enaknya dengan cangkir yang mahal. Rasa kurang dicintai rekan kerja, dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh dan angkat. Tak merasa diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban gempa di Yogyakarta . Tak menghiraukan lingkungan, ditutup halus dengan program environmental development yang harus diresmikan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup. Tak memperhatikan orang lain dengan tulus, dibalut dengan program community development yang wah. Kalau tidak hati-hati, akan muncul pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek dan bau.

Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar lebih enak, semakin enak dan menjadi sangat enak. Tipe ini tak terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian yang mahal dan eksklusif tak mampu membuat borok jadi sembuh. Makanan yang mahal tak selalu membuat tubuh jadi sehat, malahan yang terjadi acap sebaliknya. Fokus pada kehidupan dan hidup menyebabkan ia dapat santai menghadapi hari-hari yang keras. la tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang merusak martabat, sikap dan kebiasaan. Menyuap yang terus-menerus dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah bersalah kala disuap. Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya. Baginya, ini adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan.

Profesor hidup lain lagi pernah berpetuah, Take no thought for your life, what you shall eat or drink, nor your body what you shall put on. Is not the life more than meat and the body than raiment?Kalau kita tidak sadar, kita bakal terjerembap: mengkhawatirkan cangkir padahal seharusnya kita fokus pada kopi.

Imel itu diakhiri dengan seruan sederhana

Enjoy your coffee, my friend!.

Saya pun merasakan adanya sindiran halus dari imel tadi. Karir kadang membuat seseorang menyingkirkan segalanya, yang dianggap tidak penting bagi karir, atau bahkan dirasakan menyita waktu dan mengganggu. Terkadang sekedar say hello kepada orang tua yang sudah membesarkannya pun sering kali seseorang lupa.

Masih sambil menatap kosong ke layar monitor, Saya pun mengangkat ponsel, dan menelepon ibu. Tiba-tiba saja saya menyadari bahwa ternyata ada kerinduan yang selama ini saya abaikan.


::BCA::

Advertisements

6 responses to “Coffee & Cup, mana yang mau dipilih

  1. apiqquantum says:

    salut u B INTAN dan P TONI!

  2. gajahkurus says:

    Saya mah fokus ke bagaimana cara mengocek kopi yang baik, supaya semakin tercium aromanya dan semakin nikmat rasanya. Tidak masalah pake cangkir kecil murahan, di atas meja berantakan penuh obeng dan baut dan di ruang yang seperti kapal hancur. Yang penting bagi saya tetap bisa menikmati rasa dan aroma, dan selebihnya bisa berbagi rasa dengan sesama. Halah gak nyambung ya šŸ˜€

  3. Saya tidak minum kopi Bu, perut nggak kuat. Jadi saya fokus ke membuat teh yang enak dan menyehatkan, teh hijau šŸ˜›

    Artikel yang sangat bagus Bu, Terimakasih.

  4. doelsoehono says:

    walah -walah caritane dowo tenan Boe

  5. ratutebu says:

    artikel yang keren..
    saiia juga minum kopi,, dan suka kopi yang jujur,, mengajari bahwa hidup sering kali terasa pahit.. but just enjoy your coffee.. ^^ :mrgreen:

  6. To Pa Apiq, salutnya sama Pak TONI aja, saya cuma copy paste dari email beliau….malu ya….

    To Pak Gajah Kurus, wah dengan gaya menikmati kopinya, kayaknya Bapak cocok deh jadi Humas, karena dapat membuat orang yang dekat dg Bapak Happy, aroma kopi yang Bapak buat membuat kebahagiaan tersendiri lho Pak bagi yang mencium aromanya….

    To Rayyan, Sama Mas, intan juga ga bisa minum kopi, makanya suamiku dibeliin kopi yang udah jadi, tinggal tuang air panas…beres, dasar ga mau repot ya, kayaknya intan belum pernah deh dibikinin teh hijau sama Mas Rayyan…boleh dicicipi deh teh hijau buatan mas Rayyan…

    To Pak Doel, itu artinya apa Pak, intan ga ngerti basa jawa Pak

    To Ratu Tebu, hidup itu paitnya lebih dari rasa pait kopinya ya Mba & sekalinya manis itu pun lebih manis dari rasa manis kopinya btw honesty is the best policy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: