my WORDerful life

Intan Permata Sari

Macet…macet…macet

on April 7, 2008

Teman dalam menyetir yang cukup menghibur adalah radio, ada lagu-lagu yang enak di dengar, kadang ada info jalan yang mungkin akan kita lalui, tiap hari aku mengantar anakku melalui jalan Suci yang kalo pagi jangan ditanya deh antrian mobil yang terjadi, cuma karena udah biasa ya dijalanin aja, udah dicoba juga jalan-jalan alternatif tapi hasilnya sama aja.

Suatu hari aku mendengar info jalan dari radio adalah jalan suci, waktu mendengar info itu aku sudah melewati jalan tersebut, kata penyiarnya “ternyata banyak sekali info yang dapat diberitakan di Jalan Suci ini, karena macetnya lebih parah dari jalan-jalan lain yang pernah dia sambangi”…..hah separah itukah jalan yang biasa aku “lewati”

Kata penyiar itu, macet kendaraan dari perempatan pahlawan sampai ke perempatan Cikutra, berarti dia salah memberitakan yang benar adalah “macet kendaraan dari perempatan pahlawan sampai perempatan Padasuka” dan diperparah oleh motor2 yang mengambil jalur sebaliknya membuat arus baliknya yang seharusnya ga macet jadi macet.  

Minggu lalu, lupa tepatnya aku nyetir & rada kesiangan juga udah menjudge pasti bakalan kena macet berat nih….tapi sampe jalan suci malah bingung ko jalan begitu lancar & lengang, ada apa gerangan, banyak orang dipinggir jalan, apa ada kecelakaan ya? angkot cuma sedikit, ada apa ya ? ternyata begitu sampe kantor yang akhirnya ga kesiangan ada berita bahwa hari itu angkot MOGOK ?

mmmm….jangan-jangan yag bikin macet itu salah satunya angkot yang nge-tem asal-asalan yang bisa nge-tem sampe 3 jalur diabisin….jadi siapa kah gerangan penyebab kemacetan Bandung ? Mobil pribadi kah? angkotkah ? motorkah ? yang salah satu akibatnya pejalan kaki ga punya ruang lagi, ayo dong pemkot Bandung dengarkan usulan-usulan orang Bandung untuk mendapatkan solusi atas hal ini, misal belajar bikin halte (selama ini pemkot bandung baru bisa bikin trotoar tapi lupa bikin drainase jadi jalan banyak yang cepet rusak)

Menurut temen-temen gimana ? masukin usulannya tar coba ku submit buat Kang Dada, agar bandung tercinta ini menjadi kota yang menyenangkan kembali.

Note :Btw sekarang aku ke kantor ga pake mobil, ikut aja naik motor bareng suami & anakku trus nyambung angkot, selain lebih irit, memaksa aku sedikit berkeringat pagi2 karena dari jalan raya ke kantor ku aku jalan kaki, naik angkot ternyata banyak yag bisa dilihat lho & jadi tau kenapa angkot suka sembarangan berhenti kadang penumpangnya nakal juga sih, mudah2-mudahan ngurangin macet atau jangan2 jadi ikutan nambahin macet ya? kalo motor suamiku masuk jalur arus balik?  

 

Advertisements

4 responses to “Macet…macet…macet

  1. jagrag says:

    *ga serius
    Suamiku..
    istrikuu..

    *serius
    saya baru mikir, ternyata halte tidak sepenuhnya mengurangi kemacetan. apalagi kalo haltenya ‘dempet’ sama jalur jalan (angkot berhenti di halte tapi ga bisa minggir). yang betul adalah cekungan untuk kendaraan (angkot) berhenti. cekungan ini memungkinkan angkot ‘minggir’ dari jalur utama..

    *kalo bingung, wajar, susah menjelaskannya tanpa gambar 😦

  2. jagrag says:

    *mengingat-ingat…
    O ya, contohnya adalah halte di depan Gelael Bandung. Sayangnya dijadikan tempat parkir ya…

  3. doelsoehono says:

    Dik-dik klo di mana-mana macet itu ya wajar aja berarti banyak orang kaya …he……he…..

    untuk menghindari macet itu Gampang gitu aja kok repot……….
    hilngkan semua kendaraan yang parkir di Bahu jalan
    dan biul-bil yang udah aki-aki di pensiuni ha…ha…
    seandaenya-5 e…. Mimpi kali ni yeeeee

  4. gajah_kurus says:

    Menurut saya penyebab utama kemacetan salah satunya adalah perilaku pengendara itu sendiri. Pengemudi angkot, angkutan massal, mobil pribadi, dan mobil-mobil lainnya, sepeda motor, pun termasuk sepeda. Pejalan kaki juga bisa jadi penyebab kemacetan, misalnya menyebrang seenaknya, berjalan di jalur kendaraan bukan di trotoar.
    Memang banyak pengemudi angkot yang ugal-ugalan, sopir damri yang memberhentikan kendaraan seenaknya, tetapi tidak sedikit pengendara mobil pribadi yang tidak santun.
    Memang banyak pengendara sepeda motor yang zigzag memotong jalur, menyalip seenaknya. Tetapi tidak sedikit pengendara mobil yang tidak memberikan ruang gerak bagi pengendara sepeda motor.
    Semua kembali kepada manusianya itu sendiri. Aturan apapun dibuat, kalau sebagian pengendara tidak punya nurani untuk mentaati dan kurang tegasnya sebagian aparat polisi lalulintas akan sia-sia. Rambu-rambu lalulintas hanya akan jadi hiasan jalan. Marka jalan tak lebih sekedar lukisan di hitamnya permukaan aspal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: