Filosofi Pensil

“Setiap orang membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil ada penghapusnya” (Pepatah Jepang)

Kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah penuh hikmah dari sebatang pensil. Dikisahkan, sebuah pensil akan segera dibungkus dan dijual ke pasar. Oleh pembuatnya, pensil itu dinasihati mengenai tugas yang akan diembannya. Maka, beberapa wejangan pun diberikan kepada si pensil. Inilah yang dikatakan oleh si pembuat pensil tersebut kepada pensilnya.

“Wahai pensil, tugasmu yang pertama dan utama adalah membantu orang sehingga memudahkan mereka menulis. Kamu boleh melakukan fungsi apa pun, tapi tugas utamamu adalah sebagai alat penulis. Kalau kamu gagal berfungsi sebagai alat tulis. Macet, rusak, maka tugas utamamu gagal.”

Kedua, agar dirimu bisa berfungsi dengan sempurna, kamu akan mengalami proses penajaman. Memang meyakitkan, tapi itulah yang akan membuat dirimu menjadi berguna dan berfungsi optimal”.

Ketiga, yang penting bukanlah yang ada di luar dirimu. Yang penting, yang utama dan yang paling berguna adalah yang ada di dalam dirimu. Itulah yang membuat dirimu berharga dan berguna bagi manusia”.

“Keempat, kamu tidak bisa berfungsi sendirian. Agar bisa berguna dan bermanfaat, maka kamu harus membiarkan dirimu bekerja sama dengan manusia yang menggunakanmu” .

“Kelima. Di saat-saat terakhir, apa yang telah engkau hasilkan itulah yang menunjukkan seberapa hebatnya dirimu yang sesungguhnya. Bukanlah pensil utuh yang dianggap berhasil, melainkan pensil-pensil
yang telah membantu menghasilkan karya terbaik, yang berfungsi hingga potongan terpendek. Itulah yang sebenarnya paling mencapai tujuanmu dibuat”.

Sejak itulah, pensil-pensil itu pun masuk ke dalam kotaknya, dibungkus, dikemas, dan dijual ke pasar bagi para manusia yang membutuhkannya.

Pembaca, pensil-pensil ini pun mengingatkan kita mengenai tujuan dan misi kita berada di dunia ini. Saya pun percaya bahwa bukanlah tanpa sebab kita berada dan diciptakan ataupun dilahirkan di dunia ini.
Yang jelas, ada sebuah purpose dalam diri kita yang perlu untuk digenapi dan diselesaikan.

Sama seperti pensil itu, begitu pulalah diri kita yang berada di dunia ini. Apa pun profesinya, saya yakin kesadaran kita mengenai tujuan dan panggilan hidup kita, akan membuat hidup kita menjadi
semakin bermakna.

Hilang arah

Tidak mengherankan jika Victor Frankl yang memopulerkan Logoterapi, yang dia sendiri pernah disiksa oleh Nazi, mengemukakan “tujuan hidup yang jelas, membuat orang punya harapan serta tidak mengakhiri
hidupnya”. Itulah sebabnya, tak mengherankan jika dikatakan bahwa salah satu penyebab terbesar dari angka bunuh diri adalah kehilangan arah ataupun tujuan hidup. Maka, dari filosofi pensil di atas kita
belajar mengenai lima hal penting dalam kehidupan.

Pertama, hidup harus punya tujuan yang pasti. Apapun kerja, profesi atau pun peran yang kita mainkan di dunia ini, kita harus berdaya guna. Jika tidak, maka sia-sialah tujuan diri kita diciptakan.
Celakanya, kita lahir tanpa sebuah instruksi ataupun buku manual yang menjelaskan untuk apakah kita hadir di dunia ini. Pencarian akan tujuan dan panggilan kita, menjadi tema penting selama kita
hidup di dunia.

Yang jelas, kehidupan kita dimaknakan untuk menjadi berguna dan bermanfaat serta positif bagi orang-orang di sekitar kita, minimal untuk orang-orang terdekat. Jika tidak demikian, maka kita useless.
Tidak ada gunanya. Sama seperti sebatang pensil yang tidak bisa dipakai menulis, maka ia tidaklah berguna sama sekali.

Kedua, akan terjadi proses penajaman sehingga kita bisa berguna optimal, oleh karena itulah, sering terjadi kesulitan, hambatan ataupun tantangan. Semuanya berguna dan bermanfaat sehingga kita selalu belajar darinya untuk menjadi lebih baik. Ingat kembali soal Lee Iacocca, salah satu eksekutif yang justru menjadi besar dan terkenal, setelah dia didepak keluar dari mobil Ford. Pengalaman itu justru menjadi pemacu semangat baginya untuk berhasil di Chrysler.

Ingat pula, Donald Trump yang sempat diguncang masalah finansial dan nyaris bangkrut. Namun, kebangkrutannya itulah yang justru menjadi pelajaran dan motivasi baginya untuk sukses lebih langgeng. Kadang penajaman itu ’sakit’. Namun, itulah yang justru akan memberikan kesempatan kita mengeluarkan yang terbaik.

Ketiga, bagian internal diri kitalah yang akan berperan. Saya sering menyaksikan banyak artis, ataupun bintang film yang terkenal, justru yang hebat bukanlah karena mereka paling cantik ataupun paling
tampan. Tetapi, kemampuan dalam diri mereka, filosofi serta semangat merekalah yang membuat mereka menjadi luar biasa. Demikian pula pada diri kita. Pada akhirnya, apa yang ada di dalam diri kita seperti
karakter, kemampuan, bakat, motivasi, semangat, pola pikir itulah yang akan lebih berdampak daripada tampilan luar diri kita.

Keempat
, pensil pun mengajarkan agar bisa berfungsi sempurna kita harus belajar bekerja sama dengan orang lain. Bayangkanlah seorang aktor atau aktris yang tidak mau diatur sutradaranya. Bayangkanseorang anak buah yang tidak mau diatur atasannya. Ataupun seorang service provider yang tidak mau diatur oleh pelanggannya. Mereka semua tidak akan berfungsi sempurna. Agar berhasil, kadang kita harus belajar dari pensil untuk ‘tunduk’ dan membiarkan diri kita berubah menjadi alat yang sempurna dengan belajar dan mendengar dari ahlinya. Itulah sebabnya, kemampuan untuk belajar bekerja sama dengan orang lain,mendengarkan orang lain, belajar dari ‘guru’ yang lebih tahu adalah sesuatu yang membuat kita menjadi lebih baik.

Terakhir, pensil pun mengajarkan kita meninggalkan warisan yang berharga melalui karya-karya yang kita tinggalkan. Tugas kita bukan kembali dalam kondisi utuh dan sempurna, melainkan menjadikan diri
kita berarti dan berharga. Itulah filosofi ‘memberi dan melayani’ yang diajarkan oleh Tuhan kita. Itulah sebabnya Ibu Teresa dari Calcutta ataupun Albert Schweitzer yang melayani di Afrika lebih
mengumpamakan diri mereka seperti sebatang pensil yang dipakai oleh Tuhan.

Yang penting, hingga pada akhir kehidupan kita ada karya ataupun hasil berharga yang mampu kita tinggalkan. Tentu saja tidak perlu yang heboh dan spektakuler

Sumber: Filosofi Pensil oleh Anthony Dio Martin

Lagi…lagi copy paste dari milist…abis bagus sih, mudah-mudahan bisa jadi Tips………..

— On Tue, 8/26/08, Naratama Rukmananda <naratamatv@yahoo. com> wrote:
From: Naratama Rukmananda <naratamatv@yahoo. com>
Subject: [NaratamaTV] Tips Minggu Ini: “Don’t Please anybody”
To: NaratamaTV@yahoogro ups.com
Date: Tuesday, August 26, 2008, 8:55 AM

Producer/comedian Bill Cosby yang sukses dengan sitkom “The Cosby Show“,
memberikan tips bagaimana menjadi Sutradara yang sukses untuk program acara
televisi. Bill mengatakan (more than less):

“I don’t know how to make the success show, but I know how to make a good show.
Just don’t please anybody”.

Tulisan Bill ini ada dikajian buku drama Film “Directing Tips” yang dijual di
toko buku Union Station, New York. Dengan kata lain, Bill ingin menyampaikan
bahwa untuk memproduksi sebuah TV Show yang bagus maka diperlukan kemampuan Sutradara untuk berani mengambil keputusan yang melawan arus. “Don’t please anybody” atau “jangan (mengambil keputusan) untuk menyenangkan semua orang”.
Kadangkala keputusan ini tidak disukai tapi tanggung jawab akhir tetap ada di Sutradara.

Memang, terkadang keputusan2 Sutradara atau Produser seringkali tidak disukai
atau ditentang oleh anggota tim lain. Tapi, karya televisi maupun film
sesungguhnya bukan karya seni kolektif, tapi karya seni personal yang disesuaikan dengan dunia kapitalis modern Media Televisi.

Salam
Naratama

Kereeen kaannnn…………

Sudah hampir 3 bulanan ini anakku berlangganan majalah Bobo, dan mama nya biasanya ikutan baca, maklum dulu juga mama nya ini mantan pelanggan bobo juga, tapi emang isinya bagus-bagus.

Tadi malem, Ian minta bacain majalahnya, biasanya sih dia baca sendiri, berhubung lagi sakit, dia minta di manjain mamanya, akhirnya ku bacain deh.

Ada satu cerita Judulnya “TELAGA & AIR GARAM” kalo ga salah gitu deh judulnya, nama pengarangnya lupa,  awalnya apa hubungannya telaga & air garam ya…..

Disuatu desa terpencil di China hiduplah seorang tua & bijaksana, tidak banyak orang yang tau nama beliau, tapi beliau dijuluki Pak Tua Bijak. Suatu hari beliau kedatangan tamu yang membawa segudang keluh kesah, tamu tersebut mencurahkan segala masalah & keluh kesahnya pada Pak Tua Bijak dengan sabar Pak Tua Bijak tersebut mendengarkan sampai akhirnya Tamu tersebut lelah & selesai bercerita, lalu dengan tersenyum Pak Tua Bijak memberikan Tamunya segelas air minum yang sudah diberikan segenggam garam, lalu Pak Tua Bijak tersebut bertanya ” gimana rasanya air tersebut Dik?”, tamu tersebut menjawab “Asin…Asin sekali Pak Tua”, lalu Pak Tua Bijak mengajak Anak Muda tersebut ke sebuah telaga mata air tak jauh dari rumah Pak Tua.

Lalu Pak Tua Bijak menaburkan segenggam garam ke dalam telaga tesebut dan mengambil air telaga lalu meminta anak muda tersebut meminum air telaga tersebut & menanyakan rasanya, lalu anak muda tersebut menjawab “mmm…segar sekali Pak Tua”.

Pak Tua memandang anak muda tersebut sambil tersenyum, kemudian ia menjelaskan “Jika segenggam garam ini dianalogikan sebagai masalah-masalah yang menimpa dirimu lalu gelas & telaga ini dianalogikan keluasan hati Adik, silahkan adik pilih mau di masukkan kemana segenggam garam ini”…..

Terharu, tercenung saya membaca cerita ini, pendek ceritanya tapi maknanya dalem banget, seandainya anak-anak kita sering disuguhkan cerita-cerita seperti ini betapa akan hebatnya generasi penerus bangsa ini, mudah-mudahan melalui cerita ini dapat menstimulus saya untuk memilih cara menghadapi setiap masalah yang menempa diri apakah akan di hadapi dengan hati sebesar gelas atau seluas & sebening telaga yang masing-masing ada konsekuensinya juga…..

Akhirnya…aku bisa nulis blog lagi, tapi bingung juga mau nulis apa, lagi ga ada inspirasi……kalo gitu ngasih comment aja deh ke blog-blog yang lain aja

Cerita yang keren….lagi-lagi ngopy dari Milis

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam
keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya.
Tetapi, dia selalu mengangap itu sesuatu yang wajar saja. Dia terus
bermain, menggangu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang
lain adalah kesukaannya. Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau
minta maaf,dia selalu berkata, “Tidak apa-apa, besok kan bisa.”
Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar,
mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-
wajar aja.

Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah
sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya.
Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif
untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya.
Alasannya, “Tidak apa-apa, besok kan bisa.”
Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi.
Walaupun dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak
pernah saling tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia masih
punya banyak teman baik yang lain. Dia dan teman-temannya melakukan
segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya,
mereka semua teman-temannya yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang cewek
yang sangat cantik dan baik. Cewek ini kemudian menjadi pacarnya.
Dia begitu sibuk dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke
posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak
pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu
berkata, “Ah, aku capek, besok saja aku hubungin mereka.” Ini tidak
terlalu mengganggu Dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu
mau diajak keluar.Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali
untuk menelepon teman-temannya.

Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar
dalam membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga
untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan
juga hari pernikahan mereka. Itu tidak masalah baginya, karena
istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya.

Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya
kesempatan untuk mengatakan pada istrinya “Aku cinta kamu”, tapi
dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, “Tidak apa-apa, saya pasti
besok akan mengatakannya. ” Dia tidak pernah sempat datang ke pesta
ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan perpengaruh
pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak pernah
benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.

Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam
kecelakaan, istrinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi,
dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang
fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut. Sebelum
sempat berkata “Aku cintakamu”, istrinya telah meninggal dunia. Laki-
laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-
anaknya setelah kematian istrinya. Tapi, dia baru sadar bahwa anak
anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya. Segera, anak-
anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada
yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah
meluangkan waktunya untuk mereka.

Saat mulai renta, Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang
menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang
semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60,
dan 70. Semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New
Zealand,dan negara-negara lain bersama istrinya, tapi kini
dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah Jompo tersebut.
Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster
yang merawatnya.Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang Tidak
pernah dia rasakan sebelumnya.

Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata
kepadanya, “Ah, andai saja aku menyadari ini dari dulu….”
Kemudian perlahan ia menghembuskan napas terakhir, Dia meninggal dunia
dengan airmata dipipinya.

Apa yang saya ingin coba katakan pada anda, waktu itu nggak pernah
berhenti. Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadari,
anda ternyata telah maju terlalu jauh.

Jika kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah!
Jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-
ragu untuk meneleponnya segera.

Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu
ingin bilang sama seseorang bahwa kamu sayang dan cinta dia, jangan
tunggu sampai terlambat. Jika kamu terus pikir bahwa kamu lain hari
baru akan memberitahu dia, hari ini tidak pernah akan datang.

Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang, maka “besok” akan
pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar bahwa waktu telah
meninggalkanmu.

intan udah lama banget ga ngisi blog, eh…pas buka email dapet email dari Pak Toni chiang_our best customer di BCA, di baca…kena banget sama social life kita…..rasanya salah kalo ga di share, dihaturanan ka sadayana……..

Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah seorang profesor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak didengarkan. Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing. Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara pada berapa $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan ini.

Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya. Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan, prestasi, kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang mereka miliki dan duduki.

Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari mobil yang mereka kendarai serta merek baju dan jam tangan yang mereka pakai. Namun dilain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, yakni kehilangan makna hidup. Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri. They have money but not life.

Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan seteko kopi hangat dan seperangkat cangkir. Ada yang terbuat dari kristal yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina oleh-oleh salah seorang dari mereka, dan ada pula gelas dari plastik murahan untuk perlengkapan perkemahan sederhana. “Serve yourself, “ kata profesor, memecah kegerahan suasana. Semua mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari bahwa sang profesor sedang melakukan kajian akademik pengamatan perilaku, seperti layaknya seorang profesor yang senantiasa memiliki arti dan makna dalam setiap tindakannya.

“Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling mahal dan indah. Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan murahan. Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah sangat normal dan wajar. Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang menyebabkan kalian stres dan tidak dapat menikmati hidup?” sang profesor memulai wejangannya. “Now consider this: life is the coffee, and the jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided, ” kali ini kalimatnya mulai menekan hati.So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead, “ demikian ia berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama.

Sewaktu membaca e-mail yang dikirim rekan saya Ucup, begitu panggilan akrabnya, saya ikut tertegun. Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit. Betapa banyak di antara kita yang salah menyiasati hidup ini dengan memutarbalikkan kopi dan cangkir. Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang cantik.

Ada tiga tipe pekerja (baca: profesional danpengusaha) yang sering kita lihat dalam menyiasati kopi dan cangkir kehidupan ini.

Pertama, pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akhirnya hanya bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan. Paradigmanya sangat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai, semakin bercahaya.

Semakin bagus cangkir yang dimiliki tidak akan mengubah rasa kopi menjadi enak. Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas cangkir. Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah kepemilikan. Sukses diukur dengan seberapa banyak dan bagus apa yang dimiliki. Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun terpacu mendapatkannya. Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi dan tak ada waktu untuk membenahi kopi. Semua upaya hanya untuk bagian luar, sedangkan bagian dalam semakin ketinggalan.

Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit -artinya hidup yang terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta tak ada damai dan kebahagiaan- mencoba menutupnya dengan menyajikannya dalam cangkir yang lebih mahal lagi. Pikirannya juga sangat mudah, kopi yang tidak enak akan terkurangi rasa tidak enaknya dengan cangkir yang mahal. Rasa kurang dicintai rekan kerja, dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh dan angkat. Tak merasa diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban gempa di Yogyakarta . Tak menghiraukan lingkungan, ditutup halus dengan program environmental development yang harus diresmikan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup. Tak memperhatikan orang lain dengan tulus, dibalut dengan program community development yang wah. Kalau tidak hati-hati, akan muncul pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek dan bau.

Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar lebih enak, semakin enak dan menjadi sangat enak. Tipe ini tak terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian yang mahal dan eksklusif tak mampu membuat borok jadi sembuh. Makanan yang mahal tak selalu membuat tubuh jadi sehat, malahan yang terjadi acap sebaliknya. Fokus pada kehidupan dan hidup menyebabkan ia dapat santai menghadapi hari-hari yang keras. la tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang merusak martabat, sikap dan kebiasaan. Menyuap yang terus-menerus dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah bersalah kala disuap. Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya. Baginya, ini adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan.

Profesor hidup lain lagi pernah berpetuah, Take no thought for your life, what you shall eat or drink, nor your body what you shall put on. Is not the life more than meat and the body than raiment?Kalau kita tidak sadar, kita bakal terjerembap: mengkhawatirkan cangkir padahal seharusnya kita fokus pada kopi.

Imel itu diakhiri dengan seruan sederhana

Enjoy your coffee, my friend!.

Saya pun merasakan adanya sindiran halus dari imel tadi. Karir kadang membuat seseorang menyingkirkan segalanya, yang dianggap tidak penting bagi karir, atau bahkan dirasakan menyita waktu dan mengganggu. Terkadang sekedar say hello kepada orang tua yang sudah membesarkannya pun sering kali seseorang lupa.

Masih sambil menatap kosong ke layar monitor, Saya pun mengangkat ponsel, dan menelepon ibu. Tiba-tiba saja saya menyadari bahwa ternyata ada kerinduan yang selama ini saya abaikan.


::BCA::

“anda terlalu cepat mengirimkan komentar.Sabar”

……Hah….aneh banget ya masa kita ngirim komentar di blog begitu kita submit yang muncul dimonitor adalah kata-kata diatas, sekarang internet juga udah kenal kata sabar ya? awalnya aku ga percaya sama cerita Pak Angger, masa internet nyuruh kita sabar, setelah dialami sendiri…..aku garuk-garuk kepala, ko bisa ya? kenapa ya? apa penyebabnya ya? selain yang berada di kantor ini ada ga pengalaman submit comment lalu muncul seperti pesan diatas ya?

Sebelumnya aku pernah ngopy “tips ikutan casting” dari milist tetangga, sekarang blog lanjutannya nih….

Kemaren pulang belanja aku iseng beli majalah gosip, anakku juga protes “mama ngapain sih beli kora kayak gini ga mutu” gitu katanya, aku senyum aja denger statementnya, seneng juga sih berarti generasi penerus bangsa ini sudah mulai bisa membedakan mana berita yang berkualitas mana yang tidak.

Trus diantara berita2 aneh nya ada salah satu artikel tentang “sinema art sudah membeli lisensi novel KETIKA CINTA BERTASBIH itu kan novel Habbibburahman el Shirazy (Kang Abik) juga, wah jangan-jangan ingin mencontek kesuksesan AAC yang menghebohkan ini ya? begitu pikir awalku

Ternyata kali ini Kang Abik beserta sinema art mempersiapkan lebih ketat lagi untuk para pemainnya sehingga membuka casting secara umum (Seleb & Non Seleb) untuk mencari siapa yang tepat untuk memerankan  film ini. Dan ga tanggung-tanggung salah satu persyaratannya untuk bintang utamanya (Khairul Azzam) harus bisa membaca Al Qur’an karena akan di tes juga harus belum pernah beradegan ”negatif” untuk para seleb yang akan ikut casting.

Ayo siapa yang berminat……..lets check it out on www.sinemaart.com

 

Teman dalam menyetir yang cukup menghibur adalah radio, ada lagu-lagu yang enak di dengar, kadang ada info jalan yang mungkin akan kita lalui, tiap hari aku mengantar anakku melalui jalan Suci yang kalo pagi jangan ditanya deh antrian mobil yang terjadi, cuma karena udah biasa ya dijalanin aja, udah dicoba juga jalan-jalan alternatif tapi hasilnya sama aja.

Suatu hari aku mendengar info jalan dari radio adalah jalan suci, waktu mendengar info itu aku sudah melewati jalan tersebut, kata penyiarnya “ternyata banyak sekali info yang dapat diberitakan di Jalan Suci ini, karena macetnya lebih parah dari jalan-jalan lain yang pernah dia sambangi”…..hah separah itukah jalan yang biasa aku “lewati”

Kata penyiar itu, macet kendaraan dari perempatan pahlawan sampai ke perempatan Cikutra, berarti dia salah memberitakan yang benar adalah “macet kendaraan dari perempatan pahlawan sampai perempatan Padasuka” dan diperparah oleh motor2 yang mengambil jalur sebaliknya membuat arus baliknya yang seharusnya ga macet jadi macet.  

Minggu lalu, lupa tepatnya aku nyetir & rada kesiangan juga udah menjudge pasti bakalan kena macet berat nih….tapi sampe jalan suci malah bingung ko jalan begitu lancar & lengang, ada apa gerangan, banyak orang dipinggir jalan, apa ada kecelakaan ya? angkot cuma sedikit, ada apa ya ? ternyata begitu sampe kantor yang akhirnya ga kesiangan ada berita bahwa hari itu angkot MOGOK ?

mmmm….jangan-jangan yag bikin macet itu salah satunya angkot yang nge-tem asal-asalan yang bisa nge-tem sampe 3 jalur diabisin….jadi siapa kah gerangan penyebab kemacetan Bandung ? Mobil pribadi kah? angkotkah ? motorkah ? yang salah satu akibatnya pejalan kaki ga punya ruang lagi, ayo dong pemkot Bandung dengarkan usulan-usulan orang Bandung untuk mendapatkan solusi atas hal ini, misal belajar bikin halte (selama ini pemkot bandung baru bisa bikin trotoar tapi lupa bikin drainase jadi jalan banyak yang cepet rusak)

Menurut temen-temen gimana ? masukin usulannya tar coba ku submit buat Kang Dada, agar bandung tercinta ini menjadi kota yang menyenangkan kembali.

Note :Btw sekarang aku ke kantor ga pake mobil, ikut aja naik motor bareng suami & anakku trus nyambung angkot, selain lebih irit, memaksa aku sedikit berkeringat pagi2 karena dari jalan raya ke kantor ku aku jalan kaki, naik angkot ternyata banyak yag bisa dilihat lho & jadi tau kenapa angkot suka sembarangan berhenti kadang penumpangnya nakal juga sih, mudah2-mudahan ngurangin macet atau jangan2 jadi ikutan nambahin macet ya? kalo motor suamiku masuk jalur arus balik?  

 

Makasih atas comment & supportnya terhadap “My Son”

Malam kamis minggu lalu, rencana sudah disusun baik, Ian berangkat duluan ke Tasik untuk penimbangan berat badan sebagai salah satu penentuan dia masuk ke kelas pertandingan yang mana, malemnya aku, suami  & Titan nyusul untuk mensupport Ian, tapi…..

“Bu, Titan Panas” Rabu sore  aku dapet SMS dari pengasuhnya Titan, langsung panik & ngerasa aneh kobisa ya? tadi pagi dia OK-Ok aja, lagian dia kan baru sembuh 2 hari lalu.

Makasih banyak banget terhadap bantuannya Pak Asep, mengantar aku sampai dipati ukur ketempat angkot n handle finishing welcome letter Sharing Vision yang masih my responsibility.

Sesampainya dirumah, Titan tidur badannya panas sekali…..langsung ku telp suami yang masih perjalanan menuju pulang “Papa, mama kayaknya ga bisa ikut ke Tasik, Titan Panas” dan ku telp Ian semoga dia mengerti kondisi ini dan Alhamdulillah…..dia bilang “do’a nya aja Ma, gpp ko mama sama de Titan aja” ya ampun terharu banget saat itu.

Langsung ku packing bawaan untuk suami ku, begitu dia datang, mandi, makan, kuantar sampe ke tempat rombongan terakhir yang berangkat ke Tasik.

Semaleman ga bisa tidur, terjaga karena kondisi Titan juga ga bisa tidur nyenyak panas badannya menganggu tidurnya….sedih banget liatnya.

Dari rencana yang udah disusun mateng, ternyata Allah menunjukkan hal lain, ketika sehat Titan sering bertingkah yang kadang bikin aku marah, sekarang pada saat Titan sakit, aku rindu banget dengan kenakalannya dia, Allah telah menunjukkan padaku bahwa tingkah lucu Titan adalah nikmat yang tidak terkira….aku sering lupa mensyukuri hal itu

Pada saat kita merasa ada dalam kondisi tidak sesuai dengan yang kita inginkan, tetaplah berhusnudon karena  itulah anugrah terbaik yang Allah berikan.

Satu hal terpenting dari kondisi kemaren, aku telah terlalu takabur dengan rencana-rencana yang kuanggap OK sampai-sampai aku lupa berserah diri kepada-Mu

Terima kasih ya Allah,aku merasa nyaman berada di pelukan-Mu

« Previous PageNext Page »